Waspada, ASN Rawan Terpapar Radikalisme

Indonesiaku.news – Banyak yang tidak menyangka, apa bener seorang aparatur sipili negara atau pegawai negeri sipil, bisa terpapar virus radikalisme. faktanya. tidak sedikit yang menyebutkan bahwa ada ASN yang terlibat jaringan kelompok radikal.

Bahkan ada kementerian PAN RB pernah menyatakan pada awal 2022 silam, tiap bulan memberikan sanksi berupa non job bagi ASN yang terlibat radikalisme. Sedangkan jika terbukti terlibat jaringan terorisme, langsung diberikan sanksi berupa pemecatan.

Pertanyaannya, kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah ASN secara latara belakang pendidikan lebih bagus? Bukankah ASN juga punya literasi yang lebih baik dibandingkan masyarakat biasa? Memang banyak faktor yang menyebabkan oknum ASN ini terpapar radikalisme, atau terlibat jaringan terorisme.

Meski pemerintah berkali-kali melakukan pemblokiran situs yang mengandung konten radikalisme, kenyataannya masih saja oknum tersebut membuat situs baru. Dan hal ini pula yang bisa menjadi celah, bagi masyarakat yang ingin mempelajari , justru terjebak dalam situs radikal tersebut. Karena situs radikal tersebut umumnya membungkusnya dengan menggunakan sentimen keagamaan.

Faktor lain yang berpotensi membuat oknum ASN terpapar radikalisme adalah maraknya di kementerian / lembaga, yang disusupi paham radikalisme oleh oknum tertentu.

Lalu, apa yang menyebabkan masjid tersebut bisa berpotensi terpapar radikalisme? Salah satu kemungkinannya adalah salah mengundang penceramah dari luar masuk ke dalam masjid.

Saat ini ada juga oknum penceraramah yang terpapar virus radikalisme. Apalagi masjid kementerian biasanya lebih bersifat tertutup untuk para ASN, bukan untuk masyarakat umum. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok pengusung paham khilafah atau radkalisme.

Namun, ketika ada pihak yang memunculkan fakta ini, atau sekedar mengingatkan agar lebih berhati-hati, seringkali dianggap bagian dari islamofobia. Dianggap anti , kriminalisasi ulama dan lain sebagainya.

Pada titik inilah masyarakat juga harus jeli, dan membaca informasi yang mereka sebar secara utuh. Mereka seringkali mendistorsi istilah keagamaan, agar masyarakat salah dalam memahami nilai-nilai keagamaan. Mari saling menguatkan literasi, belajar agama secara benar dan bisa melihat konteksnya. Belajar agama pada orang yang tepat. yang benar-benar paham agama. Salam.

Sumber : kompasiana.com

Periksa Juga

Cakap Digital Dinilai Mampu Meredam Radikalisme

Indonesiaku.news – Paham radikalisme dan terorisme disebut banyak menggunakan media internet sebagai cara penyebarannya. Dibutuhkan …

indonesiaku.news